by

Kultum Ramadhan: Andai di Tubuh Tertulis Masa Expired

Sore itu, lengang. Di kota, orang sibuk berjalan, makan. Belanja di mall, dan lainnya. Di dekat masjid, musalla. Banyak orang yang bersiap untuk ibadah. Namun, guruh menggemuruh. Dan beberapa waktu kemudian pekikan orang bersahutan. Mereka berlari ke tengah lapangan. Namun lapangan terbelah, ratusan orang masuk ke dalam perut bumi, belahan puluhan meter.

Sesaat kemudian, rumah berjalan, tanah berjalan. Bumi ini seperti mengamuk. Kondisi sangat mencekam. Hidup seperti di blender. Mengerikan. 15 menit, tidak sebentar. Tidurpun bisa marem. Makan bisa selesai. Harusnya salat magrib selesai. Tak berapa lama, terdengar berita air laut naik. Dan benar. Tsunami datang. Mobil, motor, uang, perhiasan, manusia, semuanya hanyut.

Malam hari, tangisan menggemuruh. Kota Palu menangis. Gempa bumi dan Tsunami melanda. Ratusan orang, bahkan ribuan mati. Kota Palu mati. Semuanya tidak pernah berfikir bahwa gempa akan mengubah kehidupan mereka. Awalnya nyaman, aman, mereka tidak menyangka akan datang Tsunami. Karena jauh dari laut. Namun kenapa bisa?

Mereka yang meninggal ketika sedang ibadah, tentu saja beruntung. Tapi, yang meninggal sedang bermaksiat pada Allah, tentu akan jadi penyesalan. Dulu, ketika hidup mereka mengira tidak akan mati. Bahkan, mereka mengatakan Allah tidak Nampak dengan sombongnya.

Jika Allah berkehendak, apa sih yang tidak bisa, apalagi Cuma kematian?

Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, Kendatipun kamu di dalam benteng yang Tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) Hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun? (QS. An-nisa’: 78)

Andai di tubuh tertulis masa expired, apakah yang akan Anda lakukan?

Andai Anda diberi tahu, usia Anda hanya sampai 1 syawal, kemudian di bulan ramadhan apa yang akan Anda lakukan? Apakah Anda akan menggunakannya untuk tidur atau ibadah?

Padahal bekal mati hanya ibadah. Bukan uang, walau itu dirham sekalipun. Tapi, di tubuh tidak ada masa expire. Karena Allah tahu hati kita lemah. Agar kita bisa dengan tenang ibadah, agar kita tenang mencari duit, agar kita tenang hidup di dunia ini.

Agar kita mampu dengan tenang mencerna perintah dan larangan. Agar kita bisa dengan enak menggunakan akal dan pikiran. Tapi, kita lebih banyak melupakan kesempatan dari Allah. Sedangkan kita tidak tahu kapan kita mati. Masa expire dirahasiakan Allah. Meski expire tubuh ditulis sejak dalam kandungan.

Ibnul Mundzir rahimahullah meriwayatkan dari Ibnu Juraij rahimahullah yang mengatakan:“Diberitakan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau akan wafat, kemudian beliau berkata:“ Wahai Rabbku, siapakah yang akan mendidik umatku?” Kemudian turunlah ayat:

 Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad); Maka Jikalau kamu mati, Apakah mereka akan kekal? (QS. Al-anbiya’:  34)

Bagaimana jika Anda didatangi oleh Izrail, kemudian disampaikan bahwa Ramadhan tahun ini harus bagus ibadah dan akhlak. Kalau tidak dia akan mencabut nyawa Anda? Apakah Anda akan berfikir soal dunia?

Ataukah Anda akan akan dengan mudah membatalkan puasa di bulan ramadhan, hanya karena capek?

Ataukah Anda akan meneruskan puasa, apapun yang terjadi. Orang yang berpuasa di bulan ramadhan, apapun kondisinya, sama kisah di bawah ini.

Di sebuah kampung, ada saudagar kaya. Dia mengadakan sayembara untuk mencari mantu. Syaratnya mudah. Hanya berenang menyebrangi sungai. Orang berkumpul. Ramai sekali. Si saudagara mengumumkan, yang bisa menyebrangi sungai, akan diberikan 1 triliun dan dinikahkan dengan putrinya. Tapi di sungai ada buaya lapar 10.

Semua orang hening. Tiba-tiba ada suara orang jatuh ke sungai. Dan dia berenang dengan cepat sekali. Setelah sampai di pinggir, orang sangat tegang. Tapi si lelaki tergigil dengan wajah pucat, “Hoee, siapa yang mendorongku?”

Silakan perhatikan. Meski sungai tidak disukai hati, tapi di sana adalah jalan untuk menuju kemenangan. Jadi, apakah masih ingin mencintai dunia full?

Renungan:

Dunia seperti air di ujung jari yang dicelupkan di air. Dunia seperti rasa lapar. Air bisa dengan mudah dihapus, rasa lapar hanya bisa dihapus dengan makan. Beda. Berminat tanggaal expired di tubuhmu? Hubungi Izrail.

Comment

Informasi Terbaru