by

Kultum Ramadhan: Jangan Sampai Izrail Jadikan ini Ramadhan Terakhirmu

Seorang penjual tembakau di Jember menerima transferan 1 miliar. Istri, anak, dan kerabat menyarankan lapor polisi. Karena pengirim tidak jelas. Dia tidak mau. Meski merasa tidak memiliki uang itu. Tapi dia tidak mau. Justru memakai uang tersebut untuk beli sepeda motor dan lainnya. Sehari, dua hari. Tiga hari. Si penjual tembakau gilang bukan kepalang.

Tepat di hari ke 10, ketika dia sedang bergembira, polisi datang menjemputnya. Dia dituduh menerima uang hasil korupsi. Blaik. Padahal hampir separuh duitnya sudah dibelanjakan. Si penjual tembakau terpekur dalam nelangsa. Penyesalan berat dan tidak akan terlupakan. Kalau saja ia mau mendengar wekasan istri dan saudaranya untuk lapor polisi. Tentu tidak akan begini jadinya. Sesal kemudian, tidak ada artinya.

Hidup ini terbatas.  Kita tidak tahu kapan kita mati. Andai di tubuh setiap manusia ada tanggal expired, apa mungkin kita berleha-leha? Apa mungkin kita menghabiskan waktu yang sia-sia?

Kehidupan ini ujian. Namun kita tidak cuma diuji, tapi juga diberi ganjaran. Begitu juga dengan bulan ramadhan. Bulan ini adalah ujian, tapi juga obat bagi kehidupan kita, ummat muslim. Rest area bagi perjalanan hidup kita. Rem bagi kendaraan yang kita tumpangi. Sayangnya kita selalu saja menganggap ramadhan hanya ritual semata. Akhirnya ruh ramadhan tidak pernah kita dapatkan.

Akhir ramadhan, kita bergembira. Padahal sahabat nabi selalu menangis ketika ramadhan berakhir. Mereka berdoa agar bisa berjumpa dengan ramadhan 6 bulan sebelumnya. Pepatah mengatakan, “Yang tidak di hati, mana mungkin akan dipikirkan?”

Jangan sampai Izrail jadikan ini ramadhan terakhirmu, dan kita menyesal. Karena tidak memanfaatkan ramadhan dengan baik. Padahal, kita sudah diberi tahu oleh Allah jauh hari, kita sudah diberikan contoh oleh Allah jauh tahun. Jangan sampai penyesalan kita, tidak bisa diperbaiki lagi.

 “Dan, jika Sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Tuhan Kami, Kami telah melihat dan mendengar, Maka kembalikanlah Kami (ke dunia), Kami akan mengerjakan amal saleh, Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang yakin.” (QS. As-sajdah: 12)

Kalau saja penjual tembakau tahu, dia akan ditangkap polisi. Tentu saja dia tidak akan mau memakai uang itu, dan akan menuruti permintaan istri dan anaknya. Namun, manusia lebih suka perkara yang cocok dengan keinginannya. Daripada yang tidak. Obat terasa pahit, kita patuh meminumnya demi sembuh. Suntik dokter sakit, kita patuh demi sembuh.

Potong kaki, tangan, anggota badan lainnya, kita patuh pada dokter. Demi sembuh. Tapi kepada yang memberikan kehidupan, rezeki, sakit, ajal, sehat, pemilik dan pencipta alam raya ini, kita selalu membangkang. Kita lebih suka menganggap perintah Tuhan sebagai dongeng orang yang takut gelap. Kita lebih suka menyesal daripada menjalankan perintah di depan.

Toh, ramadhan ini adalah rest area bagi kehidupan. Yang namanya rest area tentu saja tidak banyak. Dia hadir dengan jarak. Perjalanan 300 kilometer hanya ada 1 atau dua rest Area. Itupun sempit, dan kita hanya bisa makan, ngaso, dan semisalnya.

Beda dengan ramadhan, setiap perintahnya untuk nndandani kehidupan manusia. Mulai dari kesehatan jiwa, raga dengan puasa. Kemudian kekayaan dengan sedekah, solidaritas dengan zakat fitrah dan banyak lagi.

Dari sekian lamanya hidup di dunia, berapa kali Anda menjalankan puasa ramadhan dengan Iman dan ihtisab?

Penyesalan di akhirnya, tidak akan mengubah keadaan. Meski kita berusaha sebaik mungkin, ibarat ludah, kalau sudah dikeluarkan apakah bisa dijilat lagi? Kalaupun bisa, tentu saja sudah kotor. Lalu kita hanya bisa merenungi dengan penuh penyesalan.

Sebelum Izrail jadikan ini ramadhan terakhirmu, sebelum Izrail jadikan ini waktu terakhir untukmu. Sebelum Izrail mencabut ruh keluar dari badanmu, sebelum penyesalan tidak lagi berguna, kita maksimalkan ramadhan tahun ini. Agar lebih baik dan lebih baik lagi.

Alangkah indahnya perkataan seorang penyair di bawah ini,

Jika pergi ke kota suci, cukup bekal real dan dirham

Jika pergi ke negeri seberang, cukup bekal air dan uang

Jika pergi ke alam akhirat, tidak berguna lagi real dan dirham

Karena bekal mati hanya amalan salih dan tahu diri

Aduhai kita tahu akan mati, lucunya kita tak juga bersiap menyambut dengan penuh rendah diri

Manusia memang durjana dan tak tahu diri, seperti halnya ramadhan tahun ini, paham dia membawa keutamaan, tapi kita lewatkan dengan menyantap makanan.

Aduhai manusia,

Kapan lagi ‘kan kau baca kitab suci yang mulia

Tinggalkan sejenak instagram dan lainnya

Demi menyiapkan bekal setelah kau tiada

Aduhai manusia,

Kapan lagi ‘kan kau kaji ilmu agama

Agar jalan hidupmu terang tanpa dusta

Kini, masih ada waktu tersisa. Maksimalkan ibadah demi bertemu dengan pencipta alam semesta.

Perbanyak dzikir dan pikir di ramahan yang mulia, agar kita tidak menyesal di alam akhirat sana.

Comment

Informasi Terbaru